Bangkrut Lagi

bangkrut

Judul artikel ini tidak terlalu menyenangkan. Saya mohon maaf dan mempersilahkan Anda meninggalkan tulisan ini jika tak berkenan. Saya serius!. Karena posting ini bukan tentang motivasi namun tidak juga sepenuhnya tentang keluhan.

Saya sendiri kurang suka terhadap keluhan. Apalagi keluhan-keluhan yang (mohon maaf) tak selayaknya dikeluhkan didunia maya. Namun kali ini saya terpaksa bertutur sedikit tentang pengalaman yang tidak mengembirakan. Kisah tentang “kebangkrutan” yang baru saja saya alami.

Jika sebelumnya saya sempat berkisah tentang beberapa kebangkrutan yang pernah saya alami pada masa awal-awal memulai bisnis. Nah kali ini saya (tepaksa) kembali harus berkisah tentang tema serupa.

Pada awal 2013 lalu, saya dan beberapa orang teman sepakat memulai bisnis kaos. Setelah sepakat dengan jumlah modal, posisi, dan tanggung jawab masing-masing pihak, usaha kaos kami-pun beroperasi.

Kami membuka kaos khas Bangka dengan menyewa sebuah toko kecil dipusat kota Pangkalpinang. Alhamdulillah, setelah satu tahun berjalan, usaha kami resmi ditutup. Kami bangkrut karena tak lagi mampu memperpanjang biaya sewa toko, gaji karyawan, dan lain-lain.

Toko kaso khas Bangka kami resmi ditutup.

Secara pribadi saya rugi sekitar 20 – 25 jutaan. Teman-teman lain juga merugi dengan nilai yang berbeda-beda. Selain materi, saya mengalami sedikit guncangan dalam kebangkrutan kali ini. Karena niat awalnya dari bisnis inilah saya bermimpi memberangkatkan kedua orang tua ketanah suci. Apa boleh buat, bisnis kaos kami telah roboh. Niat untuk memberangkatkan orang tua ke Makkah juga masih sebatas mimpi.

Dari pengalaman ini saya kembali medapatkan banyak sekali pelajaran bisnis yang tak ternilai harganya. Saya belajar tentang kerja keras, passion, fokus, kerjasama tim, management keuangan, marketing offline, dan masih banyak lagi. Khusus untuk bisnis kaos saya belajar tentang arti penting kemitraan, jaringan produsen (konveksi), designer, dan branding.

Saya merasa beruntung, teman-teman saya juga (nampaknya) bisa dengan ikhlas menerima kegagalan ini. Saya yakin mereka juga belajar banyak hal dari ketidakberhasilan bisnis kami dan tidak akan berhenti berjuang menggapi impian mereka dalam dunia bisnis.

Bisnis memang tak mudah, ada biaya yang harus kita bayar untuk setiap pelajaran yang kita peroleh. Ada perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk sebuah kesuksesan yang kita impikan.

Saya sendiri tetap yakin bahwa semua akan indah pada waktunya. Kebangkrutan kali ini hanyalah bagian dari proses yang harus saya lalui sebelum mencapai impian besar yang sungguh-sungguh saya dambakan. Lagi pula, mumpung belum punya anak istri, saya berharap dapat segera menghabiskan jatah gagal yang harus saya lalui.

Alhamdulillah…, Rabu, 22 Oktober 2014, semua aset yang tersisa dari bisnis Koas khas Bangka “Aloi” diangkut ke kontrakan karena bangkrut.

Nah, kapan terakhir kali Anda mengalami kebangkrutan ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *