Sukuk, Alternatif Bagus Untuk Investasi Berbasis Syariah

Dalam dunia investasi, dikenal beberapa produk investasi jangka panjang maupun pendek yang memiliki caranya masing-masing dalam hal pengelolaan-nya. Salah satu alternative investasi syariah yang dikenal sangat menarik di era modern ini adalah sukuk & Sukuk Ritel.

Mungkin sebagian dari Anda masih belum mengetahui apa artinya Sukuk ini. Namun bagi mereka yang gemar mencari bentuk investasi dengan basis syariah, maka sukuk ini dapat menjadi pilihan terbaik yang patut dipertimbangkan.

Apa Itu Sukuk dan Jenisnya?

Jika diartikan, sukuk ini dapat dijadikan untuk membangun negara baik itu pembangkit listrik, pabrik, jembatan, gedung maupun jalan. Apalagi kini bentuk dana syariah ini telah dikembangkan dengan baik oleh oleh pemerintah Indonesia dengan basis proyek.

Selain manfaatnya yang lebih terasa seperti pembangunan infrastruktur, dana syariah ini juga sangat digemari oleh para investor global yang kebanyakan berasal dari negara timur tengah.

Jika diartikan dalam bentuk bahasa, istilah ini merupakan sebuah bentuk jamak dari kata shak yang artinya adalah instrumen legal, cek atau amal. Intinya istilah ini digunakan di dalam bahasa Arab yang menjelaskan mengenai obligasi namun didasarkan dalam prinsip syariah.

Di dalam fatwa MUI bernomor 32?DSN-MUI/IX/2002. Dewan Syariah Nasional Majelis Utama Indonesia, telah mendefisinikan jika sukuk merupakan surat berharga dalam jangka panjang berdasarkan dari prinsip syariah yang telah dikeluarkan oleh emiten pada pemegang obligasi syariah berupa sistem bagi hasil fee atau margin kemudian membayar kembali dana obligasi itu ketika telah mermasuki jatuh tempo.

Dalam bentuk efek syariah, ini berupa bukti kepemilikan atau sertifikat dengan nilai sama serta mewakili bagian dari penyertaan yang tak bisa dipisahkan atau terbagi atas beberapa hal penting.

Hal penting itu berupa kepemilikan dari aset berwujud sesuatu yang tertentu, nilai maupun manfaat serta jasa dari aset dari proyek tertentu ataupun aktivitas dari investasi bentuk tertentu serta kepemilikan dari aset proyek tertentu. Bisa juga  aktivitas dalam investasi tertentu.

Sebagai bentuk dari efek syariah, bukti kepemilikan ini mempunyai karakteristik yang bervariasi dan berbeda dari obligasi. Setiap surat atau sertifikat yang telah diterbitkan harus memiliki aset yang dijadikan sebagai underlying asset atau dasar penerbitannya.

Klaim kepemilikan yang terjadi harus didasarkan oleh aset yang sangat spesifik dan penggunaan dana ini juga harus disesuaikan untuk kegiatan yang halal saja karena ini didasarkan atas sistem syariah. Sehingga penggunaannya tak boleh didasarkan atas sesuatu yang haram.

Untuk imbalan yang diberikan bagi para pemegang sukuk bisa berupa bagi hasil, marjin maupun imbalan dan hal itu semua didasarkan atas akad atau persetujuan yang telah digunakan untuk penerbitan suratnya.

Ada yang disebut dengan sertifikat mugharasa, sertifikat musaqa, sertifikat muzara’a, sertifikat musyarakah, sertifikat muharabah, sertifikat istishna, sertifikat salam, sertifikat kepemilikan untuk aset yang disewakan dan sertifikat kepemilikan atas dasar manfaat.

Khusus untuk sertifikat atas dasar manfaat, terbagi menjadi empat tipe yaitu sertifikat kepemilikan dari jasa di masa depan, sertifikat kepemilikan untuk jasa dari pihak tertentu, sertifikat kepemilikan dari manfaat aset untuk masa depan dan sertifikat dari manfaat yang telah ada sebelumnya.

Namun ada juga beberapa masalah dengan sertifikat ini, salah satunya adalah tingkat return yang telah dipastikan sebelumnya.

Pada dasarnya, tingkat pengembalian dana atau return untuk sebagian besar sertifikat biasanya telah disetujui di awal tanpa adanya provisi tertentu guna jaminan dari pihak ketiga.

Karena itulah, sebelum memilih sukuk, maka sebaiknya Anda mengetahui dengan benar seluruh sistematis yang tersedia sehingga semua dana Anda dapat dimaksimalkan nilainya dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *